Peran AI dalam Akselerasi dan Transformasi Strategis Bisnis di Era VUCA 2025
Ditulis oleh : Dr.Dwi Suryanto, MM., Ph.D.
2 Februari 2026
Pendahuluan
Di ruang rapat dewan direksi saat ini, pertanyaan besarnya bukan lagi “Apakah kita harus menggunakan AI?”, melainkan “Seberapa cepat kita bisa mengintegrasikannya tanpa merusak struktur organisasi?” Kita berada di titik balik sejarah ekonomi digital. Menurut laporan terbaru McKinsey (2024), AI generatif diperkirakan akan menambah nilai ekonomi global sebesar $2,6 triliun hingga $4,4 triliun setiap tahunnya. Namun, teknologi tanpa strategi hanyalah biaya tambahan yang mahal.
Bayangkan sebuah perusahaan ritel besar yang menginvestasikan jutaan dolar pada infrastruktur AI untuk manajemen inventaris, namun gagal menyelaraskannya dengan strategi pemasaran dan rantai pasok mereka. Hasilnya? Gudang penuh dengan produk yang tidak diinginkan pasar, sementara produk populer justru out of stock. Ketimpangan antara kemampuan teknologi dan eksekusi strategis inilah yang sering kali menjadi penghambat utama pertumbuhan. Inilah mengapa konsep AI Business Accelerator menjadi sangat krusial.
Konsep dan Fondasi Teoretis
Keberhasilan akselerasi bisnis berbasis AI bertumpu pada satu pilar utama: Strategic Alignment (Keselarasan Strategis). Secara akademis, konsep ini berakar pada teori yang menekankan bahwa efektivitas sistem perusahaan bergantung pada seberapa jauh teknologi tersebut mendukung tujuan bisnis inti (Taşkın, 2022).
Dalam lanskap bisnis yang didefinisikan oleh Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (VUCA), kepemimpinan transformasional menjadi jembatan yang menghubungkan potensi AI dengan realitas operasional. Kepemimpinan ini bukan sekadar tentang visi, melainkan kemampuan untuk mengadaptasi strategi bisnis secara real-time di tengah disrupsi teknologi (Noviyanti, 2025).
Bukti Empiris dan Sintesis Strategis
Melalui penyaringan riset terbaru 2022–2025, kita menemukan bahwa akselerasi bisnis bukan terjadi secara linear, melainkan melalui integrasi tiga dimensi:
-
Optimasi Operasional dan Pemasaran: Riset oleh Taşkın (2022) menunjukkan bahwa organisasi dengan keselarasan strategis yang tinggi mengalami peningkatan efisiensi operasional hingga 30%. Di sektor keuangan, penggunaan AI dalam pemasaran berbasis data terbukti secara signifikan meningkatkan kinerja bisnis dan efisiensi pemasaran (Awad, 2025). Hal ini didukung oleh temuan Fareniuk (2023) yang menyatakan bahwa Marketing Mix Modeling berbasis AI dapat mendongkrak efektivitas kampanye hingga 25%.
-
Keberlanjutan sebagai Nilai Kompetitif: AI tidak hanya digunakan untuk profit, tetapi juga untuk profil ESG (Environmental, Social, Governance). Shwawreh (2025) menemukan bahwa integrasi strategi bisnis hijau meningkatkan keberhasilan pemasaran digital sebesar 18%. Kesadaran akan green marketing kini menjadi parameter vital dalam menarik investasi modern (Oprescu, 2024; Pranata, 2025).
-
Ketahanan dalam Krisis: Adaptasi cepat terhadap teknologi digital menjadi faktor penentu kelangsungan bisnis di wilayah konflik atau ketidakpastian tinggi (Korneyev, 2022). Kemampuan manajemen pengetahuan dan adaptabilitas proses bisnis menjadi prediktor utama keberhasilan rekayasa ulang organisasi (Nkurunziza, 2018).
Tren Global dan Data Makro (2023–2025)
Berdasarkan data World Bank (2024), adopsi teknologi digital di pasar berkembang diperkirakan akan menyumbang 20% pertumbuhan PDB di kawasan tersebut pada tahun 2030. Sementara itu, OECD (2024) mencatat bahwa perusahaan yang mengintegrasikan AI dengan prinsip keberlanjutan memiliki ketahanan 1,5 kali lebih tinggi terhadap fluktuasi pasar dibandingkan perusahaan konvensional. Di Indonesia, transformasi digital UMKM kini menjadi agenda nasional untuk mencapai target Indonesia Emas 2045.
Pola Sebab-Akibat (Logic Mechanism)
Akselerasi bisnis mengikuti mekanisme logika sebagai berikut:
Strategic Alignment (Keselarasan Strategi & AI)
→ Peningkatan Efisiensi Operasional (Otomasi & Insight Data)
→ Agilitas Pemasaran & Keberlanjutan (Green Marketing & Real-time Optimization)
→ Keunggulan Kompetitif & Loyalitas Pelanggan (Customer Trust & ESG Compliance)
Insight Lintas Disiplin
Jika kita meminjam perspektif dari Psikologi Organisasi, keberhasilan AI sangat bergantung pada Psychological Safety. Michael Scherf (2021) menekankan pentingnya kerendahan hati (humility) dalam proses coaching bisnis untuk menerima kegagalan eksperimen AI. Tanpa ruang untuk belajar dari kesalahan teknis, tim akan cenderung bermain aman, yang justru menghambat inovasi.
Dalam Ilmu Sistem Kompleks, kepemimpinan transformasional bertindak sebagai negative feedback loop yang menstabilkan organisasi saat terjadi guncangan pasar, memastikan bahwa akselerasi tidak berujung pada kelelahan emosional atau burnout bagi para pemimpinnya (Palovski, 2020).
Rekomendasi Praktis
Sebagai ahli strategi, saya menyarankan langkah konkret bagi berbagai tingkatan pemangku kepentingan:
-
Untuk CEO & Founders: Prioritaskan audit “Strategic Alignment”. Pastikan investasi AI Anda bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjawab hambatan spesifik dalam rantai nilai Anda. Integrasikan metrik ESG dalam KPI teknologi Anda.
-
Untuk Manajer Madya: Fokus pada manajemen pengetahuan. AI hanya sekuat data yang diberikan manusia. Bangun budaya literasi data di tim Anda dan gunakan Marketing Mix Modeling untuk pengambilan keputusan yang lebih tajam.
-
Untuk Pembuat Kebijakan: Ciptakan ekosistem yang mendukung Sustainable Digital Marketing. Berikan insentif bagi UMKM yang mampu mengadopsi teknologi hijau dalam proses bisnis mereka.
Kesimpulan
AI bukan lagi masa depan; AI adalah infrastruktur dasar bisnis hari ini. Namun, memenangkan persaingan memerlukan lebih dari sekadar algoritma canggih. Ia memerlukan kepemimpinan yang adaptif, keselarasan strategi yang presisi, dan komitmen pada keberlanjutan.
Untuk membekali diri dengan kompetensi strategis ini, saya mengundang Anda untuk bergabung dalam Pelatihan AI yang diselenggarakan oleh Borobudur Training & Consulting. Kami mendesain program ini untuk mentransformasi cara Anda memimpin dan mengakselerasi bisnis di tengah kompleksitas global.
Jadilah pemimpin yang menentukan arah, bukan sekadar pengikut arus.
daftar pustaka
Awad, A. (2025). Data-Driven Marketing in Banks: The Role of Artificial Intelligence in Enhancing Marketing Efficiency and Business Performance. International Review of Management and Marketing. Tersedia di: https://doi.org/10.32479/irmm.19738
Fareniuk, Y. (2023). Optimization of Media Strategy via Marketing Mix Modeling in Retailing. Ekonomika. Tersedia di: https://doi.org/10.15388/Ekon.2023.102.1.1
McKinsey & Company. (2024). The state of AI in early 2024: GenAI adoption spikes and starts to generate value. [Online Report].
Noviyanti, A. (2025). The Role of Transformational Leadership in Adaptive Business Strategy Implementation in the VUCA Era. Sistem, Informasi, Manajemen, dan Bisnis Adaptif (SIMBA). Tersedia di: https://doi.org/10.63985/simba.v1i1.9
Oprescu, C. (2024). Exploring the ESG Surge: A Systematic Review of ESG and CSR Dynamics. Review of International Comparative Management. Tersedia di: 10.24818/rmci.2024.2.229
Shwawreh. (2025). The Role of Green Business Strategy in Enhancing Digital Marketing Strategy for Sustainable Business Intelligence. International Review of Management and Marketing. Tersedia di: 10.32479/irmm.18287
Taşkın, N. (2022). An Empirical Study on Strategic Alignment of Enterprise Systems. Acta Infologica. Tersedia di: 10.26650/acin.1079619
World Bank. (2024). Digital Progress and Trends Report 2024. Washington, DC: World Bank.
Comments are closed.