AI Business Diligence: Navigasi Strategis di Era Ketidakpastian

Ditulis oleh : Dr.Dwi Suryanto, MM., Ph.D.
20 Januari 2026

Pendahuluan

Di ruang rapat direksi saat ini, pertanyaan besarnya bukan lagi “Apakah kita harus menggunakan AI?” melainkan “Bagaimana kita memastikan AI tidak menjadi liabilitas strategis?” Kecerdasan Buatan (AI) telah bergeser dari sekadar alat efisiensi menjadi penggerak utama nilai bisnis. Namun, tanpa diligence (uji tuntas) yang ketat, janji transformasi ini sering kali berujung pada fragmentasi operasional.

Sebagai ilustrasi, pertimbangkan sebuah institusi perbankan regional yang menggelontorkan jutaan dolar untuk sistem AI pemasaran. Meski secara teknis canggih, proyek tersebut gagal memberikan ROI karena kurangnya penyelarasan dengan strategi keberlanjutan perusahaan dan ketidaksiapan kepemimpinan dalam menghadapi perubahan model kerja. Skenario ini mempertegas bahwa AI business diligence adalah disiplin multidimensi yang mengintegrasikan teknologi, strategi, dan kemanusiaan.

Konsep dan Fondasi Teoretis

Inti dari efektivitas AI terletak pada Strategic Alignment (Penyelarasan Strategis). Menurut Taşkın (2022), ini adalah sejauh mana inisiatif AI selaras dengan tujuan besar perusahaan dan kapabilitas internal. Tanpa harmoni ini, AI hanyalah artefak teknologi yang mahal.

Lebih jauh, kita melihat munculnya Sustainable Business Intelligence. Ini adalah persilangan antara strategi bisnis hijau (green business) dan pemasaran digital, di mana AI digunakan untuk menyeimbangkan profitabilitas dengan tanggung jawab lingkungan (Shwawreh, 2025; Gregurec, 2025). Di tingkat operasional, Knowledge Management menjadi fondasi agar organisasi tetap adaptif dalam proses rekayasa ulang bisnis (Business Process Reengineering) berbasis AI (Nkurunziza, 2018).

Sintesis Bukti dan Temuan

Penelitian terbaru memberikan gambaran jelas mengenai dampak AI yang terukur:

  • Penyelarasan dan Kinerja: Taşkın (2022) secara empiris membuktikan bahwa penyelarasan sistem perusahaan, termasuk AI, secara signifikan meningkatkan kinerja organisasi. Ketidakselarasan tujuan antara manajemen dan pengembang perangkat lunak sering kali menjadi penyebab utama kegagalan proyek (Tarawneh, 2019).

  • Optimalisasi Pemasaran: Studi oleh Awad (2025) pada sektor perbankan mengonfirmasi bahwa pemasaran berbasis data yang didorong oleh AI meningkatkan efisiensi pemasaran secara drastis. Hal ini didukung oleh Mvunabandi (2024) yang menunjukkan bagaimana kerangka marketing mix yang dioptimalkan AI meningkatkan viabilitas bisnis, khususnya pada sektor ritel.

  • Dimensi Kepemimpinan: Kepemimpinan transformasional sangat krusial dalam mengimplementasikan strategi adaptif di era VUCA (Noviyanti, 2025). Pemimpin tidak hanya harus mengelola algoritma, tetapi juga kelelahan emosional (burnout) dan dinamika psikologis tim selama transisi digital (Palovski, 2020; Kati, 2021).

Tren Global dan Data Mutakhir (2023–2025)

Data dari IMF (2024) memperkirakan bahwa AI akan memengaruhi hampir 40% pekerjaan secara global, dengan potensi peningkatan produktivitas yang dapat menambah kontribusi hingga $15,7 triliun bagi ekonomi global pada tahun 2030 menurut proyeksi McKinsey. Di pasar berkembang, tingkat adopsi AI di sektor UKM yang menerapkan green marketing meningkat sebesar 25% sepanjang tahun 2024 (Pranata, 2025), menunjukkan bahwa keberlanjutan menjadi kriteria diligence yang semakin kritis.

Pola Sebab-Akibat (Logic Flow)

Logika strategis AI dapat disederhanakan sebagai berikut:

Strategic Alignment → Peningkatan Kinerja Sistem AI → Efisiensi Operasional & Pemasaran → Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan.

Sebaliknya:
Kepemimpinan yang Kaku + Ketidakjelasan Tujuan → Fragmentasi Data → Burnout Organisasional → Kegagalan Transformasi.

Wawasan Lintas Domain

Menarik untuk melihat kaitan antara AI dan psikologi organisasi. Transactional Analysis (Leonova, 2023) dapat digunakan untuk memahami dinamika manusia saat berinteraksi dengan sistem otomatis. Sama halnya dengan ketahanan bisnis di wilayah konflik seperti Ukraina yang tetap mampu menjalankan aktivitas pemasaran melalui adaptasi cepat (Korneyev, 2022), AI harus dipandang sebagai alat resiliensi, bukan sekadar alat pertumbuhan.

Rekomendasi Praktis

Untuk menavigasi kompleksitas ini, saya menyarankan langkah-langkah berikut:

  • Untuk CEO/Founder: Prioritaskan audit penyelarasan strategis secara berkala. Pastikan KPI AI Anda tidak hanya tentang kecepatan, tetapi juga tentang kontribusi terhadap tujuan jangka panjang dan ESG (Environmental, Social, Governance).

  • Untuk Manajer Madya: Fokus pada manajemen pengetahuan dan peningkatan keterampilan (upskilling). Gunakan AI untuk memantau kualitas layanan dan loyalitas pelanggan secara real-time sebagai metrik keberhasilan utama.

  • Untuk Pengambil Kebijakan: Ciptakan ekosistem yang mendukung sustainable digital marketing dan lindungi kesejahteraan psikologis pekerja di tengah otomatisasi yang masif.

Kesimpulan

AI business diligence bukan lagi tugas sampingan departemen IT; ini adalah imperatif strategis di meja direksi. Kesuksesan bergantung pada kemampuan pemimpin untuk menyelaraskan tujuan bisnis, komitmen pada keberlanjutan, dan empati terhadap dimensi manusia dalam perubahan.

Untuk membantu organisasi Anda menguasai kompetensi kritis ini, Borobudur Training & Consulting menyelenggarakan pelatihan eksklusif yang dirancang untuk membekali para eksekutif dengan kerangka kerja AI yang strategis dan aplikatif. Mari melangkah lebih dari sekadar adopsi teknologi menuju kepemimpinan AI yang visioner.


Daftar Pustaka

  • Awad, A. (2025). Data-Driven Marketing in Banks: The Role of Artificial Intelligence in Enhancing Marketing Efficiency and Business Performance. International Review of Management and Marketing. https://doi.org/10.32479/irmm.19738

  • Korneyev, M. (2022). Business marketing activities in Ukraine during wartime. Innovative Marketing. http://dx.doi.org/10.21511/im.18(3).2022.05

  • Mvunabandi, J.D. (2024). Marketing mix Framework as a Tool to Enhance Women’s Business Viability in Limpopo-South Africa. International Review of Management and Marketing. https://doi.org/10.32479/irmm.14707

  • Noviyanti, A. (2025). The Role of Transformational Leadership in Adaptive Business Strategy Implementation in the VUCA Era. Sistem, Informasi, Manajemen, dan Bisnis Adaptif (SIMBA). 10.63985/simba.v1i1.9

  • Shwawreh (2025). The Role of Green Business Strategy in Enhancing Digital Marketing Strategy for Sustainable Business Intelligence. International Review of Management and Marketing. 10.32479/irmm.18287

  • Taşkın, N. (2022). An Empirical Study on Strategic Alignment of Enterprise Systems. Acta Infologica. 10.26650/acin.1079619

  • IMF (2024). AI Will Transform the Global Economy. Let’s Make Sure It Benefits Humanity. International Monetary Fund Report.

Author

Comments are closed.