Kepemimpinan Strategis di Era Kecerdasan Buatan

Ditulis oleh : Dr.Dwi Suryanto, MM., Ph.D.
22 Januari 2026

Introduction

Mengapa banyak inisiatif Kecerdasan Buatan (AI) di tingkat korporasi gagal memberikan ROI yang diharapkan? Jawabannya seringkali bukan pada kegagalan teknis, melainkan pada diskoneksi strategis. Di tengah pergeseran ekonomi global di mana IMF (2024) memprediksi AI akan memengaruhi hampir 40% pekerjaan secara global, para pemimpin bisnis kini berada di persimpangan jalan: mengadopsi AI sebagai sekadar alat otomasi, atau mengintegrasikannya sebagai mesin pertumbuhan yang beretika dan berkelanjutan.

Bayangkan seorang CEO di sektor ritel yang menginvestasikan jutaan dolar pada sistem analitik AI, namun tim pemasarannya tetap menggunakan intuisi tradisional untuk alokasi media. Tanpa strategic alignment, teknologi canggih tersebut hanyalah “beban biaya” yang mahal, bukan aset strategis.

Concepts and Theoretical Foundations

Integrasi AI dalam bisnis harus berpijak pada dua pilar utama: Strategic Alignment dan Ethical Leadership.

  1. Strategic Alignment: Keselarasan antara sistem teknologi perusahaan dengan tujuan strategis organisasi. Tanpa ini, AI hanya akan menciptakan pulau-pulau informasi yang terisolasi.

  2. Adaptive & Transformational Leadership: Kepemimpinan yang tidak hanya berfokus pada hasil jangka pendek, tetapi juga pada kemampuan organisasi untuk belajar dan beradaptasi di tengah ketidakpastian (VUCA).

  3. Sustainable Intelligence: Menggabungkan AI dengan Green Business Strategy untuk menciptakan nilai yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan (ESG).

Evidence and Synthesis

Riset terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan AI sangat bergantung pada sejauh mana teknologi tersebut “berbicara” dengan strategi bisnis. Penelitian oleh Taşkın (2022) menegaskan bahwa strategic alignment pada sistem perusahaan meningkatkan efektivitas implementasi teknologi secara signifikan.

Dalam domain pemasaran, efisiensi bukan lagi soal tebakan. Awad (2025) menemukan bahwa pemasaran berbasis data yang didukung AI di sektor perbankan secara signifikan meningkatkan kinerja bisnis. Hal ini diperkuat oleh temuan Fareniuk (2023) yang menunjukkan bahwa Marketing Mix Modeling berbasis AI dapat meningkatkan efektivitas media hingga 15% di sektor ritel.

Namun, teknologi tidak berdiri sendiri. Noviyanti (2025) menyoroti bahwa di era VUCA, kepemimpinan transformasional adalah kunci untuk mengadaptasi strategi bisnis secara lincah. Lebih lanjut, Murcio (2021) menekankan pentingnya person-centered leadership agar penerapan AI tetap mengedepankan etika dan nilai kemanusiaan, menghindari dehumanisasi di tempat kerja.

Current Data, Trends, and Policies (2023–2025)

Menurut laporan McKinsey Global Survey (2024), adopsi AI generatif telah melonjak di berbagai industri, namun hanya 15% perusahaan yang menyatakan telah memiliki kerangka kerja risiko dan tata kelola yang memadai. Sementara itu, OECD (2023) mencatat bahwa investasi dalam pelatihan keterampilan ulang (reskilling) menjadi prioritas kebijakan utama di negara-negara maju untuk memitigasi disrupsi tenaga kerja akibat otomatisasi.

Cause–Effect Patterns

Memahami mekanismenya sangat krusial bagi pengambil kebijakan:

  • Strategic Alignment yang Kuat → Integrasi Data Lintas Departemen → ROI AI Terukur.

  • Green Business Strategy + AI → Optimasi Sumber Daya → Peningkatan Skor ESG & Kepercayaan Stakeholder.

  • Kepemimpinan Adaptif → Budaya Inovasi → Resiliensi Organisasi terhadap Disrupsi.

Cross-Domain Insights

Menarik untuk melihat hubungan antara AI dan psikologi organisasi. Implementasi AI yang agresif tanpa manajemen perubahan yang tepat sering kali memicu burnoutPalovski (2020) memperingatkan tentang risiko kelelahan emosional pada pemimpin yang menghadapi tekanan inovasi tinggi. Di sini, konsep humility (kerendahhatian) dalam business coaching seperti yang diusulkan oleh Scherf (2021) menjadi relevan: pemimpin harus berani mengakui keterbatasan sistem AI dan terbuka terhadap pembelajaran berkelanjutan.

Practical Recommendations

Sebagai pemimpin, langkah apa yang harus Anda ambil?

  • Untuk CEO/Founders: Mulailah dengan mengevaluasi Strategic Alignment Maturity organisasi Anda. Jangan membeli teknologi sebelum Anda mendefinisikan masalah bisnis yang ingin diselesaikan. Pastikan AI selaras dengan agenda keberlanjutan (Green Strategy).

  • Untuk Middle Managers: Fokus pada Knowledge Management. Pastikan tim Anda memiliki literasi data yang cukup untuk berkolaborasi dengan sistem AI (Nkurunziza, 2018). Kelola dinamika lintas generasi (Gen X, Y, Z) dalam tim dengan gaya kepemimpinan yang inklusif.

  • Untuk Policymakers: Dorong regulasi yang mendukung transparansi AI dan insentif bagi perusahaan yang menerapkan Ethical AI dan program reskilling bagi karyawan.

Conclusion

AI bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan imperatif strategis. Keberhasilannya tidak ditentukan oleh algoritma yang paling rumit, melainkan oleh kepemimpinan yang visioner, etis, dan selaras dengan tujuan besar organisasi.

Untuk membantu organisasi Anda menavigasi kompleksitas ini, Borobudur Training & Consulting menyelenggarakan pelatihan eksklusif: “AI Strategic Integration for Executive Leadership.” Program ini dirancang untuk membekali Anda dengan kerangka kerja praktis dalam mengintegrasikan AI ke dalam jantung strategi bisnis Anda.

Jadilah pemimpin yang membentuk masa depan, bukan sekadar pengikut arus.


daftar pustaka

  • Awad, A. (2025). Data-Driven Marketing in Banks: The Role of Artificial Intelligence in Enhancing Marketing Efficiency and Business Performance. International Review of Management and Marketing. Tersedia di: https://doi.org/10.32479/irmm.19738

  • Fareniuk, Y. (2023). Optimization of Media Strategy via Marketing Mix Modeling in Retailing. Ekonomika. Tersedia di: https://doi.org/10.15388/Ekon.2023.102.1.1

  • IMF (2024). AI Will Transform the Global Economy. Let’s Make Sure It Benefits Humanity. Washington D.C.: International Monetary Fund.

  • McKinsey & Company (2024). The state of AI in 2024: Gen AI adoption spikes and starts to generate value.

  • Murcio, R. (2021). Person-Centered Leadership: The Practical Idea as a Dynamic Principle for Ethical Leadership. Frontiers in Psychology. Tersedia di: https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.708849

  • Nkurunziza, G. (2018). Knowledge management, adaptability and business process reengineering performance in microfinance institutions. Knowledge and Performance Management. Tersedia di: 10.21511/kpm.02(1).2018.06

  • Noviyanti, A. (2025). The Role of Transformational Leadership in Adaptive Business Strategy Implementation in the VUCA Era. SIMBA. Tersedia di: 10.63985/simba.v1i1.9

  • Palovski, J. (2020). Clinical and psychological characteristics of emotional burnout in business leaders. Science and Education a New Dimension. Tersedia di: 10.31174/send-pp2020-239viii95-19

  • Scherf, M. (2021). Demut gegenüber der Fehlbarkeit des Handelns im Business-Coaching. Organisationsberatung, Supervision, Coaching. Tersedia di: 10.1007/s11613-021-00725-4

  • Taşkın, N. (2022). An Empirical Study on Strategic Alignment of Enterprise Systems. Acta Infologica. Tersedia di: 10.26650/acin.1079619

Author

Comments are closed.